Showing posts with label Curhat ga penting. Show all posts
Showing posts with label Curhat ga penting. Show all posts

Monday, September 12, 2011

September 11

Sinar matahari senja sudah mulai kalah terang dengan sinar bulan purnama yang sudah tampak tinggi di atas langit. Itulah pertanda alam yang menyiratkan kalau perutku sudah saatnya diisi. Lihat saja, begitu saraf2 mataku melaporkan kepada otak tentang keadaan itu, saat itu juga saraf2 di perut langsung mengirimkan sinyal ke otak yang kemudian diterjemahkan menjadi kata “lapar.. lapar...” Seketika itu juga keluarlah perintah otak untuk keluar dari tempat peraduanku dan mencari orang yang beberapa saat yang lalu mengatakan 2 kata yang saat itu nyaris tidak aku pedulikan “KFC yuk!”

Kurang dari 10 menit kemudian, aku sudah ada di dalam perjalanan untuk mengikuti perintah perutku yang masih senantiasa berteriak kelaparan itu. Aku menerobos jalan dengan cepat, tanpa mempedulikan 2 orang auntie2 yang sedang bagi selebaran dan lampu merah yang melarangku menyeberang karena saat itu masih giliran orang2 di dalam mobil untuk lewat. Menjelang tempat makan, suasana masih ramai, aku kembali menyelipkan diri di antara orang2 yang sedang ngantri buat naik taksi, namun akhirnya perjalananku terhalang seorang ibu dan anak kecilnya yang benar2 menghabiskan seluruh badan jalan yang ada. Well, bukan karena ukuran mereka, tapi karena memang di sana seang ada ‘pasar kaget’ menyambut mid-autumn festival di mana bagian tengah2 jalan tiba2 tertutup untuk para penjual kue bulan. Ahirnya gua hanya bisa berjalan dengan kecepatan kurang dari 30% kecepatan maksimumku tepat di belakang si ibu2 tadi. Akhirnya, dengan sedikit kesempatan, keberuntungan, dan kegalakan, kedua ‘penghalang jalanan’ itu berhasil aku lewati dan dengan segera aku berbelok kanan masuk ke tempat tujuan.

Kini aku sudah berada di dalam KFC. Aku hanya perlu menuju ke arah kasir dan makanan untuk mengisi perutku akan segera tersedia. Namun masalahnya, antrian di keempat kasir yang ada di sana sudah mengular belasan meter jauhnya. Dengan kurang sabar, aku pun mulai mengantri di sana (yah, mau bagaimana lagi kan?). Aku lihat orang2 di antrian sebelah depan, ada gerombolan anak2 kuliahan yang sedang mainan hp (hmm.. orang2 seperti ini biasanya cepat, pesen buat diri sendiri kayak gua), ibu2 dengan anak kecil (wah, mudah2an anak kecilnya ga rewel minta ini-itu), OB... (cepat, kecuali kalau menjelang kasir tiba2 5 orang temannya dateng nyeruduk nyerobot barisan gua), bapak2 sendirian (hmm, take away buat seluruh keluarga berhubung istrinya ngga masak hari ini). Tapi tetap saja, panjang.. estimated queuing time: 15 minutes!). Perutku harus bersabar 15 menit lagi, kalau semua berjalan dengan lancar.

Akhirnya, tibalah giliranku, seperti biasa aku memesan 2 potong ayam, 2 kentang, yang biasa dan yang sudah diblender, dengan coca cola, benar2 menu yang disarankan bagi orang2 yang sedang diet. Dengan hati berdebar aku menunggu pesananku datang. Segera, pesanan itu sudah siap untuk kubawa ke meja dan kusantap, memuaskan dahaga perutku. Tapi, tunggu.. satu.. dua.. tiga.. lho, kok ayamnya ada tiga potong? Apa ini punyaku? Aku tunggu sebentar, tidak ada yang mengambil, orang yang tadi di depanku sudah pergi, yang di belakang masih ngobrol sama kasirnya, berarti, ini punyaku. Lha, kok bisa? Tiba2 kasir itu melirik struk yang ada di nampanku, “Wah.. bakalan diganti nih” pikirku. Ternyata, dia hanya melihat. Tidak melakukan apa2. Segera dengan cepat tanpa ragu2 aku ambil nampan itu dan kubawa ke meja.

Aku pun sudah siap berpesta, 1 dada, 1 paha atas, 1 paha bawah, benar2 akan merusak diet yang sudah kujalani selama ini dengan setengah hati. Manusia di depanku berinisiatif menyembunyikan struk itu di bawah nampannya, 2 orang anak kecil yang duduk di sebelahku langsung memasang tampang tak percaya, walaupun sebenarnya tidak ada yang aneh dengan itu kan? Aku tatap lagi apa yang ada di atas meja, ayam oreng, 3 potong untuk dihabiskan, kentang, coca cola, wew.. Perutku dijamin puas dan nggak akan ribut2 lagi.

Aku mulai makan dengan lahap. Satu.. dua... ti.. Wah, ternyata tangan orang di sebelah lebih cepat, jadi potongan ayam yang ke-3 langsung disambarnya tanpa basa-basi. Antara senang dan dongkol, senang karena ada kemungkinan dietku tidak rusak2 amat, dan sepertinya aku sudah tidak akan mampu lagi makan potongan yang ke-3 dan dongkol karena ayam gratis yang kudapat dengan susah payah, entah karena kesalahan orangnya atau sebagai hadiah atas kesetiaanku mempromosikan KFC selama ini kepada orang2 di sekitarku, entahlah. Kenyataan yang ada adalah drumstick itu.. kini telah berpindah tangan ke sebelah. Oh iya, apa aku pernah bilang? Kedua orang anak kecil di sebelahku yang menatapku dengan tidak percaya itu tidak tahu peristiwa ini. Mereka sudah pergi duluan, saat melangkah keluar pun, tatapan mereka masih tak beralih, kepada seseorang yang sedang berhadapan dengan 3 potong ayam KFC.. Hei.. nothing wrong with that okay. You can’t sue me because of it!”

Akhirnya, aku hanya makan 2 potongan ayam besar, dan perutku kini tidak lagi mengirimkan sinyal “lapar,” dan sinyalnya kini berganti menjadi “sakit.. sakit..” Entah apa maunya perutku itu, tapi yang pasti, pagi2 buta keesokan harinya, perutku mengalami komplikasi yang memaksa otakku membangunkanku yang masih tertidur dengan enaknya dan gak bisa tidur lagi setelah itu sampai sinar matahari pagi muncul dan semakin tinggi yang menandakan aku harus segera kembali bersiap2 kembali ke kehidupan nyata. Yah, sudah hari senin. Saatnya kembali merasakan kelam dan kejamnya hidup di dunia ini.

Sekian.

PS: Pelaku dalam post ini bukan gua, gua hanya seorang reporter..

Friday, September 02, 2011

Mesmerized

Buat kebanyakan orang, kata Bahasa Inggris ini mungkin terdengar sangat tidak familiar karena selama ini gua tidak bisa menemukan artinya di kamus Bahasa Inggris manapun, meskipun akhirnya gua bisa menemukan di internet. Kami, gua dan beberapa ‘comrades’ yang biasa menghabiskan waktu ngeslack dengan ngopi sambil ngobrol2 gak penting bak pegawai negri, telah berhasil menemukan kata baru dalam Bahasa Inggris, yang sementara hanya dipakai di kalangan terbatas, namun semoga bisa dengan cepat tersebar luas. Kata itu adalah: MESMERIZER. Menurut www.thefreedictionary.com, arti kata ini adalah “a person who induces hypnosis.” Dengan ini, kami menyatakan telah menciptakan definisi baru bagi kata ini yaitu “A person who mesmerizes.” Dalam bahasa Indonesia “Orang yang membuat anda terpesona.”

Cerita ini kembali bermula dari sebungkus kopi sachet Nescafe. Alkisah seseorang membawanya ke pantry. Tiba2 di tengah jalan: “Eh, gua punya kopi nih, lu mau ga? Kalau mau ini gua kasih lu aja deh.” “Yang bener?” si ‘mesmerizer’ menjawab. “Iya, ambil aja. Gua punya banyak” jawabnya. “Wah, oke terima kasih banget ya.” Kata si mesmerizer yang juga menjadi ‘mesmerized’ itu sehingga mundur beberapa langkah dan menginjak kaki GUA! Cerita berlanjut, setelah sampai di tempat tujuan, yaitu ‘pantry’ orang ini tiba2 bilang “Lho, mana kopi guaa????” Yang gua jawab dengan bingungnya “Lho, kan lu kasih dia tadi!” Sejak itulah kami menjuluki orang ini ‘the mesmerizer.’

Lho, lalu memang siapa dia? Seorang cewek, sudah jelas, karena kita semua masih manusia normal. Dengan suara nyaring bak bunyi dering telepon jaman dulu yang selalu berbunyi tanpa henti, perawakan yang agak mungil seperti ibu kos rumah sebelah (tapi ukuran bajunya nyaris sama dengan ukuran baju gua!), rambut rada ikal bak indomie goreng keriting, dan gaya busana yang membuat gua tidak mencium sedikitpun aroma ‘phd’ yang seharusnya keluar dari kepalanya. Memang sejak kedatangannya, tepatnya setelah kejadian ‘mesmerization’ (lihat definisi di paragraf berikut) itu, suasana di sekeliling memang menjadi lebih meriah.

Tapi waktu peristiwa ‘mesmerization’ ( ‘an act of mesmerizing people, either intentionally or not’ atau ‘tindakan untuk membuat orang terpesona, baik disengaja ataupun tidak’) itu, gua nggak pernah menyangka kalau hal itu bisa menular, artinya kalau satu orang ‘mesmerized,’ maka orang2 yang lain bisa ikut2an ‘mesmerized’ juga termasuk gua, yang sekarang sudah mulai agak2 ‘mesmerized’ yang sudah terbukti dengan tumbuhnya keberanian untuk melancarkan kata2 gombal gak jelas yang baru gua sadari kemudian, yang artinya sewaktu tindakan itu dilakukan, gua nggak nyadar kalau gua sedang GOMBAL.

Untungnya, ‘mesmerized’ gua bisa cepet sembuh dan tidak merambat ke mana2, meskipun kalau dilihat2 orang ini memang memiliki modal untuk menjadi seorang ‘mesmerizer’ dengan modal seperti yang gua sebut tadi. Ditambah ‘mesmerization’ yang dialami oleh orang2 di sekitar gua yang membuat gua terkadang berpikir untuk bertukar tempat duduk agar bisa duduk tepat di sebelahnya, yang tentu saja tidak berhasil karena orang yang duduk di sebelahnya juga sudah terjangkit wabah ‘mesmerized’ itu. Tapi yah nggak apa2, karena kalau wabah itu kumat lagi, mungkin akan bisa berbahaya buat gua. Biarkanlah gua hanya ‘mesmerized’ dari jauh karena terbukti ‘mesmerization level’ itu berbanding terbalik dengan jarak.

Ah, if only she knew that she has mesmerized me to that extent.

Sekian.

Saturday, February 12, 2011

Nagging Rhapsody

Kata orang di dunia ini ada dua jenis orang. Jenis pertama adalah orang yang membawa kebahagiaan ke manapun mereka pergi, yang satunya lagi, kapanpun mereka pergi. Lalu gua termasuk jenis yang mana? Silakan anda sendiri menilai namun gua cukup yakin, kalau penilaian itu akan sama dengan penilaian gua terhadap anda, maksudnya kalau anda mengangap gua jenis yang pertama, kemungkinan besar gua juga menganggap anda orang jenis pertama dan sebaliknya. Mengapa? By nature, gua merasa bahwa semua tindakan, tingkah laku gua adalah sebuah reaksi. Gua bakal jadi medok kalau ngomong sama orang medok (sehingga terkadang mencoba sering ngobrol dengan tetangga sebelah kantor yang orang Inggris, biar aksen gua jadi British), hormat dengan orang yang menghargai gua, geje sama si tukang geje sama gua, menel sama orang yang menelin gua .

Bukan contoh yang baik, karena waktu kecil dulu, gua pernah diajari kalau Tuhan Yesus berkata “Apabila ditampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu ditampar”. Namun guru SD gua memberikan suatu tambahan yang sampai saat ini masih gua ikuti, “tapi kaki nendang.” Karena itu kalau anda nanya gimana kelakuan gua, hampir pasti orang2 di sekeliling gua bakal bilang gua orang galak, tidak berperikemanusiaan dan perikeadilan.

Well, memang, by nature, gua adalah tipe orang yang gak akan memperlambat langkah saat berjalan di jalanan kecil dan melihat empat orang berjalan berjejer menutupi jalan dari arah berlawanan. Gua adalah orang yang suka memberikan sumpah serapah buat supir bis yang ninggalin gua walau sudah melihat gua berlari sekencang2nya menuju halte (dan gua mungkin orang yang paling senang kalau kejadian yang sama menimpa orang lain dan gua ada di dalam bis).

Gua mungkin dibesarkan bukan di tengah keluarga raja, tapi di keluarga biasa yang selalu dijadikan alas kaki para raja (dari lagu \Rif, Radja). Dan mungkin sedari kecil gua bertekad tidak mau menjadi seperti itu lagi atau naik pangkat sehingga gua benar2 seorang penjilat yang buruk dan sukar memuji jadi kalau gua bilang preman solo di sebelah itu ganteng, itu karena menurut gua dia benar2 ganteng . Maka tatkala gua mendapat tawaran menjadi seorang budak student dengan gaji singapur dolar, gua menerimanya tanpa berpikir panjang. Gua juga minta maaf kalau jiwa sosial gua kurang, meskipun seorang teman telah membanjiri renungan harian setiap hari yang umumnya mengajak kita untuk saling menolong, tapi sulit buat gua, mungkin karena gua sering menganggap menolong = menjadi alas kaki sehingga gua membatasinya untuk menolong seseorang yang ‘membayar’ gua alias my boss, ‘he has the authority on me’. Contoh lain, free food (gua sering bilang, ‘well, karena gratis jadi gua gak punya hak buat komplain’) dan anda bisa tahu gimana sebenarnya kualitas free food itu.

Sebenarnya gua bukan sama sekali gak mau menolong, gua senang menolong, tapi tentunya bukan hal yang berlebihan kalau gua berharap pernyataan minta tolong itu diakhiri dengan titik atau tanda tanya, bukan tanda seru. Gua rasa juga bukan hal yang berlebihan kalau gua yang menentukan gimana cara gua mau menolong (Misal: Eh, lu nggak ada kerjaan kan, bantuin gua pindahan dong, barangnya belum gua pack sih, Ntar kalau lu ada kardus2 gitu bawa ya, buat packing, terus kita pindahan, jalan kaki aja, gak jauh kok, cuma 3 bus stop. Lu juga udah biasa jalan kan? Lalu saat pindahan ada kata2 ini “Ah, elu sih gak bawa kardus, jadi kan kita mesti bolak balik”).

Hal lain yang gua pelajari dulu adalah kata2 ini “Man of his words”, dan gua selalu berusaha untuk menjadi salah satunya. Namun kata2 itu memiliki kekurangan besar yaitu hanya mencakup separuh populasi bumi. Gua semakin merasa bahwa pencetus kata2 itu adalah golongan separuh populasi bumi lainnya. Satu contoh jelas adalah OTP, on time performance yang banyak ditampilkan di situs airline. Well, gua kadang merasa dalam kehidupan manusia, OTP hanya ada pada golongan yang terikat kata2 tersebut, di mana gua salah satunya (karena itu juga gua semakin yakin bahwa preman solo itu adalah ‘man’ karena he she is indeed MAN of his her word. Entahlah, mungkin gua orang nganggur yang punya banyak waktu luang juga. Entahlah, setiap orang memang ada masalahnya sendiri2.

Gua tahu gua bukan orang baik juga, gua nggak bersihin rumah sesuai jadwal ibu kos gua *ups. gua gak bilang ke si OI bos gua itu kalau gua nggak bisa ketemu kemarin gara2 gua mau nyari makanan gratis di tempat bos baru gua sampai beberapa menit sebelumnya. Mungkin yang gua bilang berlebihnan, mungkin orang lain bertindak juga berdasarkan cara gua bertingkah laku dengan mereka, seperti yang gua bilang tadi. Who knows?

Sekian.

Tuesday, December 07, 2010

A "dementor" called idleness

Bangun pagi2 bersamaan dengan nongolnya matahari di langit dan mulainya film Spongebob Squarepants di Global TV dilanjutkan dengan minum secangkir Nescafe, plus pisang goreng atau roti marie. Setelah itu senam pagi sesuai pesan mbah Surip mandi dan nganterin anak sekolah. Di perjalanan pulang mampir ke warung nasi uduk depan kantor Pak Lurah, membeli paket hemat dengan 5000 rupiah bisa dapet nasi uduk, kerupuk, tempe goreng 2 plus sambel.. Tapao.. Pulang makan, nonon TV, ada acara2 gosip pagi, menjelang siang langusng main PS, menunggu waktu jemput anak2 pulang sekolah. Setelah jemput anak pulang sekolah lalu makan siang, terus melihat2 keadaan para pegawai yang terkadang balik kandang sebentar. Menjelang sore duduk2 bengong di beranda, kadang ngobrol dengan para tetangga atau main PS lagi. Sore hari mandi, lalu acara serah terima setoran dari para pegawai.. Bantu2 benerin aset kalau ada yang rusak. Malem main gaple atau kartu ditemani singkong atau pisang goreng plus teh manis. Begitulah setiap hari berlalu seperti kata LeAnn Rimes How do I live a life like that? Life goes on...

Well, mungkin sebenernya bagian lagu yang gua coret yang bener. Cerita di atas adalah gambaran salah satu kerjaan yang pernah terlintas di benak gua beberapa waktu yang lalu, yaitu: Juragan Angkot. Inspirasi terpendam yang sudah tertanam sejak jaman kecil karena pengaruh sinetron berjudul “Angkot Haji Imron”. Gua sendiri ngga ingat ceritanya sama sekali, cuma lagunya aja. Namun kerjaan ini tampak seperti pekerjaan yang enak plus tidak perlu banyak mikir seperti pekerjaan yang gua telah salah pilih sekarang. Hidup santai, uang datang, mungkin concernnya cuma ngurus ijin yang ribet, harus nyogok sana-sini plus berurusan dengan preman seperti preman pasar Klewer yang tinggal di blok sebelah

Tapi mungkin memang orang2 yang memilih profesi jadi juragan angkot itu, memang sudah terlahir dan ditakdirkan menjadi juragan angkot dan sayangnya gua kemungkinan besar tidak terlahir untuk itu atau memang kepribadiannya sudah dirusak oleh sesuatu yang bernama ‘PhD’. Alasannya? Pekerjaan juragan angkot itu memerlukan kemampuan dan kreativitas pengisian waktu luang tingkat tinggi. Kalau hampir setiap hari bernama Minggu dan pekerjaan utama yang dilakukan tiap hari adalah menunggu datangnya setoran, bayangkan banyaknya waktu luang yang ada well, mungkin sebagian bisa diisi dengan ngasih tuition untuk tambah2 penghasilan. Saat gua mengalami keadaan “setiap hari adalah hari Minggu” memang ini tampak merupakan pekerjaan yang enak. (Mungkin quotenya perlu ditambah “Setiap hari adalah hari Minggu DI SINGAPUR”)

Hari2 gua sekarang memang masih dimulai pagi, saat film Spongebob Squarepants masih diputar di Global TV dan setelah sarapan, itulah hal kedua yang gua lakukan (nonton Global TV). Setelah itu biasanya gua mencari acara2 “mendidik” di TV, seperti di Discovery atau History Channel. Jam 10 nonton Global TV lagi, jam setengah 11 mulai berpikir acara makan siang, Masak Indomiekah, atau goreng nasikah? Berhuubng stok film masih ada, habis makan nonton film, tidur siang, nonton lagi dan hari pun mulai menjadi gelap. Saatnya mandi dan memikirkan rencana makan malam. Setelah makan malam? Nonton film lagi sampai waktunya tidur dan begitu seterusnya.

Meskipun gua nggak merindukan baca paper, karena kegiatan itu bisa dianggap sama dengan tidur siang, dan kerjaan gua selama ini sebagian besar ya duduk2 terus sambil ngeliatin acara gak jelas di layar komputer, yang mungkin bisa dianggap sama dengan nonton film, tapi ada satu perbedaan yang mungkin cukup besar, yaitu gua nggak pernah lagi memakai otak, sampai2 gua sempat mengira “Krusty Krab” = kepiting karatan. Namun memang, waktu gua nggak ada kerjaan sama sekali, saat setiap jam melihat ke jam dinding minimal 3 kali, dan terkadang bisa berjalan-jalan keliling rumah tanpa tentu arah dan berlokasi di Singapur , tampaknya tinggal beberapa langkah lagi yang kurang sebelum gua mencapai tahap “gila”. Sementara gua memang masih tertolong dengan tumpukan film yang sempat gua download. Mudah2an film ini gak habis gua santap dan yang terpenting lagi..semoga EP gua cepet keluar (Amin!), gua memang gak rindu baca paper, tapi cukup harus diakui, memeras otak untuk membuat program atau menurunkan persamaan2 GJ tampaknya tidak semanjur kehidupan juragan angkot sebagai ‘dementor’ buat gua.

Sekian.

Monday, November 29, 2010

An epic tale of Dapit Damiri

Sebagai seorang makhluk berkacamata, gua pastinya sekali2 (gak sering2 amat) berkunjung ke yang namanya optik. Dan optik langganan di kota kelahiran gua itu bernama Optik Loren, yang merupakan usaha keluarga turun temurun. Bokapnya buka optik, terus anaknya disuruh sekolah mata2 (maksudnya sekolah tentang mata, bukan dokter mata, gua lupa apaan). Tapi dalam post ini bukan si optik ini yang mau gua bahas, karena gak menarik. Si anak pemilik optik ini bernama ‘David’, yang entah kenapa dari sejak gua kecil sudah mendapat julukan,’Dapit Damiri’. Dan nampaknya, gua harus mengakui kecurigaan orang2 selama ini kalau asal mula julukan ini adalah... dari gua sendiri.

Sewaktu gua masih SD dulu, entah buku apa yang gua pakai, penerbitnya ‘most likely’ sih Balai Pustaka. Nah, di buku Bahasa Indonesia itu, kadang2 ada cerita2 bagus nan klasik yang dapat dikenang sepanjang usia, walaupun terkenang dalam alam bawah sadar, yang kemudian muncul di alam sadar menjadi ide untuk ngatain orang (dalam hal ini korbannya ya om Dapit ini). Perjumpaan gak sengaja dengan salah satu buku itu ternyata mengingatkan kembali, asal muasal Dapit Damiri ini. Siapa dia? Mukanya seperti apa? Kelakuannya gimana, preman seperti si orang Solo tetangga sebelah itu atau ga ? dst dst...

Salah satu kisahnya adalah si Dapit Damiri ini waktu menghadiri kenduri. Waktu itu si Dapit ini sama beberapa temennya pergi kendurian di kampung sono bareng temen2nya Mereka disuguhi hidangan nasi kebuli yang dimakan rame2. Jadi waktu kenduri itu mereka berkelompok, satu kelompok dapat satu porsi nasi gede plus sayur macem2 yang dimakan rame2. Sialnya, si Dapit ini ga kuat makan pedes sehingga kalau ke Ayam Penyet makannya sop buntut mulu sedangkan teman2nya yang lain adalah fans berat cairan berwarna merah yang bernama sambel. Mereka dengan enaknya menuang si sumber vitamin C itu ke dalam nasi kebuli yang lagi dimakan. Sementara mereka makan dengan lahapnya, si Dapit Damiri ini semakin lama semakin kepedesan. Pertama2 lidahnya terjulur, lalu keluar keringat dari wajah yang meluas ke seluruh badan hingga matanya pun mulai berair. Semua gejala2 umum yang disebabkan oleh kepedesan. Karena kesal dan sirik melihat orang2 lain yang makan dengan enaknya, si Dapit ini mengambil air yang langsung dituang ke dalam nasi itu, sehingga hidangan pun berubah menjadi sup. Kontan saja, orang2 yang lagi makan jadi marah. Si Dapit ini dengan tenangnya bilang “Lha, kita kan boleh nambahin apa aja. Kalian masukin sambel, ya saya masukin air”. Entah karena mereka takut apa emang orang2 yang lain ini pada goblok, mereka semua langsung pulang meninggalkan si Dapit ini sendirian. Sewaktu tuan rumah dateng dan lihat kalau makanan si Dapit ini kebanjiran dan ga bisa dimakan lagi, si Dapit langsung disuguhi nasi kebuli yang baru, untuk dimakan sendiri.

Well, kisah yang cukup bagus kan? Moral utama dari cerita ini pastinya adalah Kalau anda nggak mau makan yang pedes2, jangam minta ditraktir di ayam penyet, cukup kopi saja , eh jadi orang harus cerdik dan licik bila perlu biar sukses. Dan si tokoh Dapit Damiri ini memang digambarkan sebagai orang yang cerdik. Dalam kisah lainnya sewaktu dia menangkap perampok (detailnya ga tau karena bukunya ga ketemu, jadi ga inget ceritanya), orang ini menangkap perampok dengan cara ala “Home Alone” meskipun tidak seekstrim itu.

Itulah sekelumit kisah asal nama julukan si pemilik optik, yang kini digunakan secara legal oleh sebagian besar masyarakat di kota gua dalam keluarga gua. Ada sedikit rasa bangga karena gua berhasil membuktikan kalau gua adalah sumber utamanya (memang gua dari kecil jago ngatain orang kali ya). Tapi untunglah, gua ngga pernah jadi korban kelicikan si David yang asli ini atau gua ga tau kalau sudah jadi korban, anyhow, dia kan C**a . Yang pasti, nampaknya gua masih akan menjadi pelanggan setia optik itu lagi dan lagi..

Sekian.

Friday, September 17, 2010

The live jacket

Perasaan puas itu masih ada, perasaan puas setelah sukses melakukan penyerangan kepada oknum yang paling dipuja oleh para tetangga gua, dan gua sama sekali ngga nyangka kalau orang yang bersangkutan bakal tahu. Sesuatu yang menambah kepuasan batin. Oke, jadi di blog baru ini gua mau mulai dengan cerita2 yang ringan saja, walaupun pembullyan, khususnya terhadap penghuni rumah sebelahitu, masih mungkin bisa ditemukan.

Kali ini gua mau menulis tentang sebuah jaket. ‘live jacket’, bukan ‘life jacket’ untuk menyelamatkan diri, karena gua nggak punya. Ngga dijual di mana2 dan kalau nyuri dari pesawat, hukumannya 2 tahun penjara dan atau denda 200 juta. ‘Live jacket’, jaket yang menemani gua dalam kehidupan gua. Ceritanya dimulai kala ua mau pulang kampung dari Bogor sewaktu SMA.

Saat itu sudah menjelang libur dan gua berencana untuk mudik. Tante gua yang baik juga sudah datang menjemput. Karena pagi harinya ada ujian, jadi gua ikut ujian dulu sampai kira2 jam 9 pagi, lalu langsung berangkat dari sekolah, berhubung jarak sekolah ke terminal bis lebih dekat dibanding kalau harus balik ke rumah lagi. Sayangnya, entah apa yang masuk ke perut gua sehari sebelumnya, sewaktu ujian di kulit gua mulai muncul bintik2 merah. Saat tante gua menjemput di depan sekolah, gua sudah menjadi seperti suku Indian di Amerika sono. Tapi gua nggak merasa nggak enak badan atau pusing atau semacamnya, jadi tante gua berkeras. Tetap harus pulang, sampai di rumah ada keluarga yang bisa merawat. Ya sudahlah, akhirnya tante gua berlari ke pasar di dekat sekolah, membeli sebuah jaket dan topi untuk menutupi warna kulit gua yang bisa menarik perhatian para dukun untuk diambil organ tubuhnya dan dijadiin jimat.

Perjalanan pulang pun dimulai. Rute pertama sebelum menyeberang ke pulau Sumatera adalah jalan tol yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam kalau bisnya ngak keluar masuk tol mencari penumpang dan menafkahi para pedagang yang berseliweran di terminal. Untungnya, bis tidak harus melewati jalanan tanah yang tidak mungkin dapat dilewati sewaktu hujan karena lumpur sedalam lutut orang dewasa yang mungkin bisa anda jumpai kalau hendak mengunjungi Solo. Kemudian, gua harus menyeberang ke Sumatera sana dengan kapal cepat, yang Cuma memerlukan waktu 1 jam, jauh lebih cepat dibanding kapal feri gede yang perlu 2 jam di jalan, ditambah setengah jam ngantri pelabuhan, dan jika beruntung 1 jam lagi isi penumpang dan setengah jam ngeluarin penumpang lagi. Toh gua masih merasa beruntung karena ketika anda mengunjungi Solo, anda harus bertaruh nyawa menyeberang sungai Bengawan Solo yang ganas dan penuh dengan batuan2 cadas dengan menggunakan perahu karet. Di sini anda benar2 harus menggunakan ‘life jacket’ yang asli. Well, serasa mau berarung jeram aja ya.

Setelah sampai di Sumatera, gua melanjutkan lagi perjalanan panjang mudik ini, masih dengan kulit memerah dan kini ditambah kepala mulai pusing dan suhu badan mulai naik. Entah kenapa lagi, mungkin kalau gua mudik ke arah Solo sana, badan gua sudah nggak bisa bergerak lagi. Untungnya tidak. Gua masih melalui jalan mulus beraspal, meskipun bukan jalan tol lagi dan sampai di rumah dengan selamat sore harinya dalam keadaan yang cukup mengenaskan, kulit seperti terbakar ditambah pusing dan mual. Gua sendiri nggak berani melihat warna kulit gua sewaktu gua membuka jaket yang sudah melindngi gua dari kesan ‘alien’ di sepanjang perjalanan. Sesampai di rumah, gua langsung ke dokter dan keesokan harinya, kondisi gua sudah mulai membaik, sejak bala bantuan berwujud obat antialergi masuk ke badan gua. Entah alergi apa gua waktu itu. Mungkin tanpa sengaja waktu itu di Bogor gua menjumpai prata atau kari India yang langsung gua makan tanpa menyadari akibat buruknya.

Alergigua sembuh dan gua bisa liburan di rumah dengan tenang, berkat jaket itu gua bisa pulang dengan selamat juga. Sekarang, jaket itu masih tersimpan rapi di lemari gua dan mungkin salah satu pakaian tertua gua yang masih gua simpan di sini. Awal tahun ini, reslitingnya sempat putus dan gua ngga tahu gimana cara memperbaiki resliting jaket yang rusak di sini dan gua juga takut dengan ongkosnya sehingga gua harus menunggu kesempatan mudik lagi untuk benerin reslitingnya. Kini, resliting itu sudah bagus lagi dan jaket itu akan menemani gua lagi.. dalam kehidupan sehari2, dalam susah dan senang, truly ‘live jacket’.

Sekian.