Wednesday, February 01, 2012

Seorang preman dari Solo

Tahun baru, well, buat gua dari dulu memang nggak pernah identik dengan sesuatu yang baru, baik yang berupa materi ataupun yang bukan Semuanya berlalu seperti biasa saja, terasa tidak berkesan. Tapi khusus tahun baru ini, karena nasihat tetangga kamar yang juga pecandu KFC , gua dianjurkan untuk men-settle semua masalah, seperti melunasi hutang atau janji plus memberesi semua masalah yang ada. Jadi, memasuki tahun baru itu harus seperti kertas kosong, bersih, meskipun kertas itu hasil daur ulang yang memang sudah gak bisa putih lagi (mungkin itu gambaran yang tepat buat gua).

Kini tahun baru itu telah berlalu dan sudah saatnya kertas itu dicorat-coret lagi. (oke analoginya cukup sekian), intinya, setelah tahun baru yang damai berlalu, saatnya memulai kembali mencari masalah dengan orang lain, dan tempat mana lagi yang lebih bagus untuk mulai ketimbang dari “preman solo” tetangga sebelah yang memang sudah sering menjadi objek dan sumber inspirasi dari tulisan2 yang ada di blog gua.

Selama gua nulis blog sudah banyak gua menyebut tentang orang yang satu ini, tapi gua baru sadar kalau selama ini gua belum pernah mendedikasikan satu blog pun buat dia. Jadi sekarang gua bakal memperkenalkan yang bersangkutan secara khusus.

Pertama kali gua ketemu sama sang preman ... errr.. lupa entah di mana, justru gua inget rumet gua pernah bilang kalau pertama kali ketemu orang yang bersangkutan di suatu ruangan terbuka di bekas gedung tempat gua kerja sambil disiksa di lantai Basement 1. Hal pertama yang gua ingat adalah menemani yang bersangkutan makan siang bersama dengan beberapa orang sembari membicarakan rencana jangka panjang masa depan untuk buka warung setelah lulus. Sesuatu yang sampai sekarangpun masih diingat dengan jelas oleh sang preman, mungkin karena hal tersebut sangat berkesan (lho namanya mau buka warung, ya si preman harus dibaik2in dulu la.. biar nanti kalau buka warung, warungnya aman).

Hari berganti bulan, sang preman yang semula bermarkas di dalam kampus ternyata diusir keluar berhubung mengganggu keamanan di dalam kampus mau ada Youth Olympic sehingga markasnya mau dipakai. Dan gua pun sempat ikut membantu dan mencari markas baru untuk sang preman, dan sempat berpikir untuk bergabung juga di dalam markas itu (dengan pertimbangan rumah aman). Namun rencana itu akhirnya gagal terlaksana karena ada orang yang menyelenggarakan IT Fair pada waktu yang tidak tepat, dan akhirnya uang yang sudah gua kumpulkan dengan susah payah biar bisa pindah rumahpun lenyap berganti sebuah kamera digital, dan gua nggak berani pinjem uang sama sang preman sehingga akhirnya rencana tersebut pun batal. Akibatnya pada saat housewarming rumah barunya yang ditandai dengan pesta barbeque, gua melarikan diri dengan alasan (apa ya..lupa) yang berakibat sang preman harus memikul karung berisi arang buat barbeque, yang sempat membuat gua mendapat peringatan keras dari seorang freak.. (ya gimana gak freak, orang preman yang bersangkutan aja ga peduli, ditambah gua yakin memikul karung segitu gak ada masalah buat dia).

Ada satu hal yang membuat gua salut yaitu walaupun preman tapi dia masih menerapkan gaya hidup sehat bebas asap rokok, dengna menu makanan dipenuhi sayuran hijau, walaupun diperlukan waktu yang jauh lebih lama untuk makan sayuran itu dibandingkan dengan makan chicken cutlet di western food yang 100% sinful. Minuman favoritnya? Tidak diragukan lagi secangkir kopi dicampur susu kental manis yang disajikan hangat, terutama jika dilayani oleh seorang waiter ganteng asli asal lereng Gunung Sibayak. Hal lain yang membuat gua salut adalah kerajinannya dalam mengganti status di msn atau ym (meskipun tampaknya sudah lebih jarang sekarang), meskipun pada intinya statusnya sama seperti “ngantuk pagi2” pada jam 10, “ngantuk siang2” pada jam 2, dan “hoahmmm...” pada jam 7 malem.

Namun di samping “nature”nya sebagai preman, sang preman ini juga ternyata jago bermain piano, masih dilengkapi dengan kualitas suaranya yang nggak kalah sama Syahrini (mungkin juga dulu pernah ikut audisi KDI dengan membawakan lagu “Kalau bulan bisa ngomong”). Selain itu pembawaannya memang rendah hati, tidak sombong, sedikit gak jelas dan gemar menabung alias perhitungan , masih harus bersyukur karena pernah beberapa kali ditraktir kopi. Dan sang preman ini juga memiliki sisi feminim (karena memang dia cewek tulen, walaupun gayanya lebih gagah dari gua, dan terbukti sempat membuat sekelompok pria2 kesepian mencoba mendekati termasuk gua sendiri dan akhirnya hatinya tertambat pada seorang calon guru besar yang kini masih merintis jalan ke sana dengan menjadi peternak bakteri di tempatnya bekerja.

Dan akhinrya kini sudah lebih dari 3 tahun gua berkenalan dengan sang preman itu dengan segala suka-dukanya, mulai dari makan siang bareng di bawah komando ibu kos hingga naik MRT yang mogok di tengah terowongan (untung gak sampai harus jalan kaki), dan sang preman kini tinggal 11 bulan lagi menuju saat dimana kpekerjaan sampingannya di sini akan selesai dan dia harus memutuskan apakah akan kembali menjadi preman yang berkelana di dunia hitam atau kembali ke jalan yang benar untuk menjadi orang baik, syukur2 menjadi peneliti demi kemajuan ilmu pengetahuan dan umat manusia demi menebus sisi kelamnya di masa lalu saat masih berada di dunia hitam bersama preman2 yang lain, atau.. ikut kami membuka warung? Entahlah, kita lihat saja nanti.

Sekian.


Monday, September 12, 2011

September 11

Sinar matahari senja sudah mulai kalah terang dengan sinar bulan purnama yang sudah tampak tinggi di atas langit. Itulah pertanda alam yang menyiratkan kalau perutku sudah saatnya diisi. Lihat saja, begitu saraf2 mataku melaporkan kepada otak tentang keadaan itu, saat itu juga saraf2 di perut langsung mengirimkan sinyal ke otak yang kemudian diterjemahkan menjadi kata “lapar.. lapar...” Seketika itu juga keluarlah perintah otak untuk keluar dari tempat peraduanku dan mencari orang yang beberapa saat yang lalu mengatakan 2 kata yang saat itu nyaris tidak aku pedulikan “KFC yuk!”

Kurang dari 10 menit kemudian, aku sudah ada di dalam perjalanan untuk mengikuti perintah perutku yang masih senantiasa berteriak kelaparan itu. Aku menerobos jalan dengan cepat, tanpa mempedulikan 2 orang auntie2 yang sedang bagi selebaran dan lampu merah yang melarangku menyeberang karena saat itu masih giliran orang2 di dalam mobil untuk lewat. Menjelang tempat makan, suasana masih ramai, aku kembali menyelipkan diri di antara orang2 yang sedang ngantri buat naik taksi, namun akhirnya perjalananku terhalang seorang ibu dan anak kecilnya yang benar2 menghabiskan seluruh badan jalan yang ada. Well, bukan karena ukuran mereka, tapi karena memang di sana seang ada ‘pasar kaget’ menyambut mid-autumn festival di mana bagian tengah2 jalan tiba2 tertutup untuk para penjual kue bulan. Ahirnya gua hanya bisa berjalan dengan kecepatan kurang dari 30% kecepatan maksimumku tepat di belakang si ibu2 tadi. Akhirnya, dengan sedikit kesempatan, keberuntungan, dan kegalakan, kedua ‘penghalang jalanan’ itu berhasil aku lewati dan dengan segera aku berbelok kanan masuk ke tempat tujuan.

Kini aku sudah berada di dalam KFC. Aku hanya perlu menuju ke arah kasir dan makanan untuk mengisi perutku akan segera tersedia. Namun masalahnya, antrian di keempat kasir yang ada di sana sudah mengular belasan meter jauhnya. Dengan kurang sabar, aku pun mulai mengantri di sana (yah, mau bagaimana lagi kan?). Aku lihat orang2 di antrian sebelah depan, ada gerombolan anak2 kuliahan yang sedang mainan hp (hmm.. orang2 seperti ini biasanya cepat, pesen buat diri sendiri kayak gua), ibu2 dengan anak kecil (wah, mudah2an anak kecilnya ga rewel minta ini-itu), OB... (cepat, kecuali kalau menjelang kasir tiba2 5 orang temannya dateng nyeruduk nyerobot barisan gua), bapak2 sendirian (hmm, take away buat seluruh keluarga berhubung istrinya ngga masak hari ini). Tapi tetap saja, panjang.. estimated queuing time: 15 minutes!). Perutku harus bersabar 15 menit lagi, kalau semua berjalan dengan lancar.

Akhirnya, tibalah giliranku, seperti biasa aku memesan 2 potong ayam, 2 kentang, yang biasa dan yang sudah diblender, dengan coca cola, benar2 menu yang disarankan bagi orang2 yang sedang diet. Dengan hati berdebar aku menunggu pesananku datang. Segera, pesanan itu sudah siap untuk kubawa ke meja dan kusantap, memuaskan dahaga perutku. Tapi, tunggu.. satu.. dua.. tiga.. lho, kok ayamnya ada tiga potong? Apa ini punyaku? Aku tunggu sebentar, tidak ada yang mengambil, orang yang tadi di depanku sudah pergi, yang di belakang masih ngobrol sama kasirnya, berarti, ini punyaku. Lha, kok bisa? Tiba2 kasir itu melirik struk yang ada di nampanku, “Wah.. bakalan diganti nih” pikirku. Ternyata, dia hanya melihat. Tidak melakukan apa2. Segera dengan cepat tanpa ragu2 aku ambil nampan itu dan kubawa ke meja.

Aku pun sudah siap berpesta, 1 dada, 1 paha atas, 1 paha bawah, benar2 akan merusak diet yang sudah kujalani selama ini dengan setengah hati. Manusia di depanku berinisiatif menyembunyikan struk itu di bawah nampannya, 2 orang anak kecil yang duduk di sebelahku langsung memasang tampang tak percaya, walaupun sebenarnya tidak ada yang aneh dengan itu kan? Aku tatap lagi apa yang ada di atas meja, ayam oreng, 3 potong untuk dihabiskan, kentang, coca cola, wew.. Perutku dijamin puas dan nggak akan ribut2 lagi.

Aku mulai makan dengan lahap. Satu.. dua... ti.. Wah, ternyata tangan orang di sebelah lebih cepat, jadi potongan ayam yang ke-3 langsung disambarnya tanpa basa-basi. Antara senang dan dongkol, senang karena ada kemungkinan dietku tidak rusak2 amat, dan sepertinya aku sudah tidak akan mampu lagi makan potongan yang ke-3 dan dongkol karena ayam gratis yang kudapat dengan susah payah, entah karena kesalahan orangnya atau sebagai hadiah atas kesetiaanku mempromosikan KFC selama ini kepada orang2 di sekitarku, entahlah. Kenyataan yang ada adalah drumstick itu.. kini telah berpindah tangan ke sebelah. Oh iya, apa aku pernah bilang? Kedua orang anak kecil di sebelahku yang menatapku dengan tidak percaya itu tidak tahu peristiwa ini. Mereka sudah pergi duluan, saat melangkah keluar pun, tatapan mereka masih tak beralih, kepada seseorang yang sedang berhadapan dengan 3 potong ayam KFC.. Hei.. nothing wrong with that okay. You can’t sue me because of it!”

Akhirnya, aku hanya makan 2 potongan ayam besar, dan perutku kini tidak lagi mengirimkan sinyal “lapar,” dan sinyalnya kini berganti menjadi “sakit.. sakit..” Entah apa maunya perutku itu, tapi yang pasti, pagi2 buta keesokan harinya, perutku mengalami komplikasi yang memaksa otakku membangunkanku yang masih tertidur dengan enaknya dan gak bisa tidur lagi setelah itu sampai sinar matahari pagi muncul dan semakin tinggi yang menandakan aku harus segera kembali bersiap2 kembali ke kehidupan nyata. Yah, sudah hari senin. Saatnya kembali merasakan kelam dan kejamnya hidup di dunia ini.

Sekian.

PS: Pelaku dalam post ini bukan gua, gua hanya seorang reporter..

Friday, September 02, 2011

Mesmerized

Buat kebanyakan orang, kata Bahasa Inggris ini mungkin terdengar sangat tidak familiar karena selama ini gua tidak bisa menemukan artinya di kamus Bahasa Inggris manapun, meskipun akhirnya gua bisa menemukan di internet. Kami, gua dan beberapa ‘comrades’ yang biasa menghabiskan waktu ngeslack dengan ngopi sambil ngobrol2 gak penting bak pegawai negri, telah berhasil menemukan kata baru dalam Bahasa Inggris, yang sementara hanya dipakai di kalangan terbatas, namun semoga bisa dengan cepat tersebar luas. Kata itu adalah: MESMERIZER. Menurut www.thefreedictionary.com, arti kata ini adalah “a person who induces hypnosis.” Dengan ini, kami menyatakan telah menciptakan definisi baru bagi kata ini yaitu “A person who mesmerizes.” Dalam bahasa Indonesia “Orang yang membuat anda terpesona.”

Cerita ini kembali bermula dari sebungkus kopi sachet Nescafe. Alkisah seseorang membawanya ke pantry. Tiba2 di tengah jalan: “Eh, gua punya kopi nih, lu mau ga? Kalau mau ini gua kasih lu aja deh.” “Yang bener?” si ‘mesmerizer’ menjawab. “Iya, ambil aja. Gua punya banyak” jawabnya. “Wah, oke terima kasih banget ya.” Kata si mesmerizer yang juga menjadi ‘mesmerized’ itu sehingga mundur beberapa langkah dan menginjak kaki GUA! Cerita berlanjut, setelah sampai di tempat tujuan, yaitu ‘pantry’ orang ini tiba2 bilang “Lho, mana kopi guaa????” Yang gua jawab dengan bingungnya “Lho, kan lu kasih dia tadi!” Sejak itulah kami menjuluki orang ini ‘the mesmerizer.’

Lho, lalu memang siapa dia? Seorang cewek, sudah jelas, karena kita semua masih manusia normal. Dengan suara nyaring bak bunyi dering telepon jaman dulu yang selalu berbunyi tanpa henti, perawakan yang agak mungil seperti ibu kos rumah sebelah (tapi ukuran bajunya nyaris sama dengan ukuran baju gua!), rambut rada ikal bak indomie goreng keriting, dan gaya busana yang membuat gua tidak mencium sedikitpun aroma ‘phd’ yang seharusnya keluar dari kepalanya. Memang sejak kedatangannya, tepatnya setelah kejadian ‘mesmerization’ (lihat definisi di paragraf berikut) itu, suasana di sekeliling memang menjadi lebih meriah.

Tapi waktu peristiwa ‘mesmerization’ ( ‘an act of mesmerizing people, either intentionally or not’ atau ‘tindakan untuk membuat orang terpesona, baik disengaja ataupun tidak’) itu, gua nggak pernah menyangka kalau hal itu bisa menular, artinya kalau satu orang ‘mesmerized,’ maka orang2 yang lain bisa ikut2an ‘mesmerized’ juga termasuk gua, yang sekarang sudah mulai agak2 ‘mesmerized’ yang sudah terbukti dengan tumbuhnya keberanian untuk melancarkan kata2 gombal gak jelas yang baru gua sadari kemudian, yang artinya sewaktu tindakan itu dilakukan, gua nggak nyadar kalau gua sedang GOMBAL.

Untungnya, ‘mesmerized’ gua bisa cepet sembuh dan tidak merambat ke mana2, meskipun kalau dilihat2 orang ini memang memiliki modal untuk menjadi seorang ‘mesmerizer’ dengan modal seperti yang gua sebut tadi. Ditambah ‘mesmerization’ yang dialami oleh orang2 di sekitar gua yang membuat gua terkadang berpikir untuk bertukar tempat duduk agar bisa duduk tepat di sebelahnya, yang tentu saja tidak berhasil karena orang yang duduk di sebelahnya juga sudah terjangkit wabah ‘mesmerized’ itu. Tapi yah nggak apa2, karena kalau wabah itu kumat lagi, mungkin akan bisa berbahaya buat gua. Biarkanlah gua hanya ‘mesmerized’ dari jauh karena terbukti ‘mesmerization level’ itu berbanding terbalik dengan jarak.

Ah, if only she knew that she has mesmerized me to that extent.

Sekian.

Wednesday, June 08, 2011

WC Umum

Untuk soal pekerjaan, mungkin salah satu kerjaan yang paling enak terutama buat para Cina itu adalah wiraswasta. Jadi bos atas diri sendiri, nggak ada bos yang dengan setia ngatur dan marah2, malah sebaliknya kitalah yang menjadi si pengatur dan tukang marah2 itu. Tetapi yang namanya kerja, ya ada untung ruginya juga, pertama kerjaan begini perlu modal, kecuali anda lahir di keluarga yang hartanya gak habis dimakan 7 turunan, ini bakal jadi masalah utama. Kedua, ya itu, harus kerja keras dalam jangka waktu yang lama. Beda dengan kerjaan sekarang di mana kalau ngeslack dampak utamanya ya kena marah, di sini kalau ngeslack berarti ga dapet uang, simpel. Dan factor waktu juga yang bikin kebanyakan wiraswasta sukses itu sudah mendekati usia senja, istilahnya muda kerja paksa tua kaya raya, sedikit berbeda dengan cita2 awal: muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga . Ketiga seluruh resiko harus ditanggung sendiri, kalau bangkrut dan bernasib seperti keluarga cemara, ya mau bagaimana lagi. Keempat, tentu saja berurusan dengan orang2 dunia hitam seperti kepala preman yang berdomisili di blok 685B itu .

Meskipun demikian karena Cina bukan berarti gua nggak pernah berpikir jadi wiraswasta, pekerjaan termudah: jaga warung. Masalahnya: warungnya nggak ada. Lalu untuk mulai ada satu pertanyaan besar: warung apa yang harus dijaga biar bias untung besar, gak perlu kerja keras, dan akhirnya bias punya harta cukup buat 7 turunan. Well, seorang teman pernah bilang, jualan yang paling menguntungkan dan hal2 seperti di atas dapat tercapai dalam waktu kurang dari setahun itu cuma dua: narkoba dan cewek. Paling menguntungkan dan paling besar resikonya. Dan karena salah satu komponen cita2 gua adalah “mati masuk surga” maka pilihan ini tidak pernah gua pikirkan untuk dicoba.

Pilihan lain, buka toko elektronik atas saran dari seorang tetangga sebelah yang orang tuanya sukses membuka toko elektronik di Indo, sayang anaknya terjerumus cinta dengan seorang Korea dan sempat terperangkap dalam dunia phd meskipun akhirnya bisa melarikan diri . Well, tapi pastinya modalnya besar dan apa yang gua punya sekarang nggak akan cukup sehingga terpaksa masih harus berkutat lagi di dunia ‘riset’ untuk menambah modal. Ide sudah ada, bikin toko elektronik swalayan, ada jasa delivery dan barangnya disusun seperti di IKEA, sehingga semua orang dari pintu masuk sampai ke kasir melewati semua jenis barang elektronik yang ada, ibarat berjalan di museum, satu lajur saja. Di depan ada tukang jual makanan, terutama bakso (pakai mie, bukan selai stroberi biar gak dituntut karena ikut2an IKEA, lagian sepertinya gak akan laku). Menarik juga kalau dipikir2.

Pilihan lain yang sempat dipikirkan dengan serius beberapa bulan lalu, sesuatu yang akan lebih banyak berurusan dengan preman anak buah tetangga sebelah, yaitu juragan angkot. Hal ini sepertinya pernah dibahas di post sebelumnya, Mungkin yang menjadi inspirasi adalah sinetron “Angkot Haji Imron” waktu jaman gua masih “muda” dulu. Hanya dengan 6 angkot, bahkan salah satu keneknya budeg, bisa survive. Modal seharusnya lebih sedikit dari toko elektronik ditambah ini kan usaha bersama dengan para calon pemegang saham lain, sehingga lebih feasible. Sayangnya angkot udah terlalu banyak, kalau anda ke sebuah kota yang bernama Bogor, anda bakal melihat di jalanan, dari 5 mobil yang melintas, 4 di antaranya angkot, dan hanya 2 angkot itu yang isinya penuh, jadi saingan sudah banyak.

Akhirnya, calon pekerjaan yang menarik muncul di kepala, apa itu? Bikin “WC Umum”. Hah? Yang bener aja lu? Iya, bener, kalau dipikir2 keuntungannya benar2 bisa dibuat list. Begini:
1. Ini panggilan alam, you have no other option.
2. Sering terjadi, anda beli TV, dalam 5 tahun ke depan belum tentu anda beli TV lagi, tapi kalau anda ke WC, 2 jam kemudian pasti udah kebelet lagi.
3. Mudah diurus, bahkan di Indo, seandainya anda bilang “kalau WCnya disiram, diskon 10%; bantu siram WC yang sebelumnya ga disiram diskon 20%”, niscaya itu WC gak bakal kotor2 amat.
4. Coba hitung, kalau buka 8 jam dan setiap jam ada 50 orang ke WC dengan ditarik biaya 1000 perak, dalam sehari anda dapat 400.000. Berarti omzet anda sebulan (kalaupun weekend libur) sekitar 8 juta. Dikurang ongkos bersihin, air, dan yang lainnya, niscaya 6 juta masih ada. Kalau WC anda punya 20 cabang, angka itu adalah 120 juta.
5. Untung itu bakal lebih gede kalau airnya anda daur ulang, bilang aja ‘ramah lingkungan’ dan nggak bakal ada yang komplain soal itu. (well, kalau anda mendaur ulang air cuci tangan ya gak perlu diumumin)

Dengan cara itu ditambah inovasi2 menarik, misal pasang speaker yang senantiasa menyetel lagu2 mellow, jualan tisu basah buat menambah penghasilan sepertinya menjadi bos WC umum bukan sesuatu yang mustahil. Tertarik?

Sekian.

Wednesday, April 27, 2011

Laggers

Eh, lu punya lagu2 Indo nggak? Ini ada temen (dari negaranya Mao Tsetung) yang minta lagu2 Indo, kira2 gua kasih lagu apa ya?”

Dan pertanyaan itu mengingatkan gua kalau lagu Indo yang sedang gua dengarkan saat itu populer pada waktu gua ada di kelas 1 SMP.. “Bermimpi”, dan begitulah perenungan ini dimulai.

Di daerah asal gua, para supir angkot memiliki selera musik terbaik, tidak kalah dengn anak2 gaul waktu itu. Sound system super besar yang mengurangi kapasitas angkot mereka sebanyak 2 penumpang dimiliki oleh hampir separuh angkot di sana. Lagunya? Hanya ada dua menu, pertama lagu2 dugem belakang Untar macam “rain and tears” yang kemudian jadi soundtracknya Trio Macan atau lagu2 yang pernah tenar saat Solo masih berstatus Kerajaan (sekarang juga masih sepertinya) seperti lagu2nya Ebiet G. Ade atau Pance Pondang. Namun jangan salah, supir angkot ini sangat profesional, meskipun music berbunyi keras, dia masih dapat mendengar suara kecil dari penumpang yang bilang “Kiri, Bang”, jadi, anda nggak perlu takut untuk naik angkot di sana.

Khusus rute angkot favorit gua, lagu jenis kedua yaitu lagu2 jaman Kerajaan Solo jauh lebih populer. Maka dulu gua suka bilang, ada “lag time” kurang lebih 20 tahun antara kepopuleran sebuah lagu dengan kepopulerannya di dalam angkot ini. Jadi lagu2 milik Base Jam atau Stinky bakal populer kira2 10 tahun lagi, dan Samson atau Letto harus menunggu 20 tahun lagi sampai lagu2nya bisa diputar di sini. Namun sekarang gua harus mengakui kalau ‘lag time’ gua soal lagu mulai meningkat dan semakin lama semakin mendekati, bahkan suatu saat mungkin bisa melampaui para supir angkot ini. Karena itu gua mau coba menganalisa penyebabnya, dan setelah sedikit direnungkan, maka kira2 inilah biang keroknya.

1. Perpisahan dengan Glodok
Satu hari setelah lebaran 2006, gua resmi menjadi WNI yang tinggal di luar negri. Di sebuah negara di mana tidak ada satupun warung atau orang yang menjual permen karet dan CD bajakan. Tidak ada tempat bernama glodok yang penuh dengan vcd bokep lagu bajakan di mana 1 CD bisa berisi 100 lagu lebih, walaupun anda bakal menemukan 1 lagu dikopi 4 sampai 5 kali atas nama albumnya yang beda2.

2. Autisme
Dalam satu hari, saat di mana gua nggak ada di depan komputer mungkin cuma waktu mandi, makan, tidur. Tidak ada acara ngamen dari kamar kos ke kamar kos lagi di sini. Karaoke? Mahal dan biasanya acara2 begituan bakal kena veto oleh oknum2 tidak bertanggung jawab.

3. Iklan
Gua memang nggak pernah nyari lagu sendiri tapi selalu mengandalkan iklan dari orang2, tidak ada iklan berarti tidak ada lagu baru yang gua tahu.

4. Mungkin satu kata yang paling tepat “kondusivitas”
Hmm.. yah, situasinya nggak kondusif gitu. Titik, no further comment.

Lagu paling baru di komputer gua adalah ‘aku dan dirimu’ yang gua download setelah keranjingan nonton sinetron yang memakai lagu itu waktu gua balik Indo. Selebihnya, lagu2 lama yang gua download lagi. Tapi ya gak apa2, toh gua masih tahu kalau ada grup band yang namanya “smash” yang benar2 pengen gua smash lagunya. Mungkin nanti gua jadi bisa menikmati lagu2 yang diputar para supir angkot di tempat gua kelak, karena selera musik kami sudah setara, 10 tahun lagi, saat mereka memutar lagu2 Sheila on 7 atau mungkin malah gua yang bilang ke supir angkotnya, “Mas, ini lagu baru ya, saya belum pernah denger. Judulnya apa ya?

Sekian.

Monday, February 28, 2011

Es potong Singapur

Di lampu merah depan Taka bagian ujung, di sekitar patung singa, di belakang Bugis Street, di deket parkiran sepeda Boon Lay MRT, di jalanan kecil belakang gereja katolik di Boon Lay, di lorong2 ‘ganjil’nya Geylang, terkadang di lapangan basket deket rumah kalau lagi beruntung. Lalu apa kesamaan dari tempat2 ini di mata anda? Di mata gua, kesamaannya adalah saya bisa melihat sesuatu yang indah khusus lorong ‘ganjil’nya Geylang, ada bonus hal ‘indah’ lainnya . Bagi lidah gua artinya tersaji makanan lezat yang enak disantap kala suhu luar di atas 30 derajat akibat pemanasan global. Bagi dompet gua, hal ini berarti berkurangnya uang logam sedolar, dan bagi perut gua, artinya diet gua hari ini gagal.

Inilah hidangan pertama gua kala gua pertama kali menginjakkan kaki di Orchad, sebelum akhirnya menuju ke foodcourtnya Taka untuk beli nasi goreng (dan berkomentar sendiri, aduh, jauh2 ke Singapur kok makannya nasi goreng, ini sih di depan rumah juga malem2 suka lewat). Begitulah pertama kali gua berkenalan dengan yang namanya es potong, si little miss trobule menyebutnya ‘es potong singapur’, si orang medok menyebutnya ‘es krim uncle’, sesuatu yang mungkin akan menjadi dagangan yang wajib ada di depan sekolah kalau di Indo.

Ada lagi, tidak seperti es tung2 yang rasanya seragam, biaanya hanya ditambah irisan buah nangka yang selalu gua buang, di sini rasanya bermacam2, dan dapat dipilih sesuai selera. Favorit gua chocolate chips dan mocca (terkadang beli yang blueberry, yang chocolate menurut gua ngga seberapa enak. Big no buat rasa duren). Dilengkapi dengan sehelai roti dan selembar plastik demi kebersihan karena orang Singapur ga doyan sama kuman.

Dan tahukah anda, gua dulu pernah jalan2 ke orchard hanya demi beli makanan ini, meskipun kemudian menjadi jinak akibat ketersediaan es murah 2 dolar dapet 3 di prime atau shengsiong. Dan tahukah anda, di suatu hari para peserta amazing race pernah jadi tukang dagangnya di daerah Bugis sono dan juga kalau uncle2 itu ternyata diorganisir oleh sindikat mafia yang berkantor pusat di Pasar Klewer di bawah pimpinan seorang geje tetangga sebelah.

Anda boleh bilang gua orang aneh, maniak es potong, padahal di supermarket deket rumah aja ada jual, kenapa gak mau beli sendiri.. well, tapi memang kalau uncle2 yang bikinin itu pasti ada yang BEDA! Percayalah, lagipula saya ingin menyumbang kepada sindikat tetangga sebelah itu. Dan setelah sekian lama tidak merasakan kenikmatannya, akhirnya kemarin, dengan patung besar di daerah Bugis (entah patung siapa itu) sebagai saksi bisu, gua bisa membeli dan menikmatinya kembali. Es potong singapur, buah karya uncle2 (yang rada jorok, karena kemarin gua ngga dikasih plastik). Well, bagi pemegang KTP biru keluaran NKRI seperti gua, berani kotor itu baik (seperti yang selalu didengungkan oleh Rinso) dan semakin kotor, semakin enak. Dan memang benar, tekstur dan kelembutannya, rotinya, dinginnya, rasanya.. It is simply PERFECT :)

Sekian.

Saturday, February 26, 2011

Bang SMS

Ada untungnya juga gua setia dengan HP Nokia gua yang berbentuk buka tutup ini. Setelah pernah bermasalah karena sering ngehang, mungkin karena M1 terlalu pelit untuk masang pemancar di tempat kerja gua sehingga 2 tahun pertama gua terisolir dari dunia luar begitu masuk ke tempat itu, tapi tidak pernah ada masalah dengan HP Nokia gua dalam hal menyimpan SMS, apapun itu, karena terkadang ada SMS khususnya dari lawan jenis yang terlalu ‘sayang’ untuk dihapus.

Namun godaan itu muncul setelah mendapat kerjaan baru, ditambah orang2 di lingkungan yang dipenuhi aura menghabiskan uang akhirnya gua membeli HP baru, si Android yang ternyata terlalu canggih buat gua pakai. Demi melanjutkan hobi gua, gua menyalin semua SMS dari HP lama gua. Tapi belum sampai 2 bulan gua nikmati, suatu bug yang tidak bertanggung jawab datang dan melenyapkan semua isi SMS gua, sehingga inbox gua kosong melompong. Tidak! Sesuatu yang Cuma pernah terjadi waktu gua beli HP baru.

Lalu, sebenarnya tidak ada curhat yang penting atau kisah baru menarik, baik dari preman Solo yang baru genap seperempat abad kemarin ataupun dari orang-orang lainnya. Gua hanya mencoba menyalin kembali beberapa SMS yang masih ada di HP Nokia lama gua tercinta, yang sudah dilenyapkan oleh sang ‘kutu’ sehingga gua masih bisa membacanya nanti. Buat kalian yang merasa mengirim SMS ini, terima kasih. (dan semoga gak keberatan kalau gua publish). Masih tersimpan dengan rapi lho.. Ok.. here we go:

----------------------------------------------------------------------------------------------
Ancur.. Jd ceritanya lu ge er bukan barusan. Huahaha.. G kan biasanya bukan jutek,g kan orang baik. Hanya sahaja suarany besar. Wakakak
=25 Mar 2008, setelah gua tanya kok tadi gua telpon suaranya kecil banget=

Thx! Sori br ada pulsa. Ttg yg momoko di koinu, mana gw tau yg mana momoko! Target utamanya kan cm kon2. Rusak benar2 pedofil dia!
=2 Okt 2008, kesan dan pesan dari film Koinu Dan no Monogatari=

Hahaha. Ada yg br ya? Baca dl ah, blog km itu sangat menghibur sy, apalg klo menghujat org itu. Iya mungkin dia tau jg klo kita slalu hujat dia.
=18 Apr 2009, setelah gua post “A nice and good hearted Korean man”=

Hah? Kok bisa dr jalur kuning? Lu kan ga tinggal disana,dun tell me sngaja ke sono? Gw di jalur ijo. Gw tgu lu di jp d.gw mao jln2 dulu di jp.tar ksh tau klo smp
=30 Mei 2009, sebelum barbeque housewarmingnya anak2 685B=

Hoho.. Sms pagi2 membangunkan org tdr aja lu.mana oleh2 buat saya?tp saya tdk kangen sm anda tuh.kucing saya jg tdk.hahaha.
=7 Sep 2009, setelah gua mendarat di Changi abis kabur ke Seoul=

Aduh rusak! Yang Acchi muite hoi?! Katanya ga suka maruko no neechan?
=13 Nov 2009, setelah nonton “10 Promises to my dog=

Payah..cowo yg tdk jantan lu ah. Masak anak cewe kecil disuruh dtg nemenin nonton yg beresny tengah mlm,disuruh plg mlm2 sdiri.kan saya takutt.
=19 Nov 2009, waktu ngajakin nonton midnight movie “Up” di JP=

Huahuahua. Mungkin jg. Parah, mlm2 malah mikirin phd comic, bknnya krj. Km khan blom 12 taun phd,jd msh smangat blum pengen libur
=14 Des 2009, setelah diskusi mengenai interpretasi salah satu PhD comic=

Hahaha,lu traktir g makan di mayim d.ntar g traktir makan kfc.
=8 Jan 2010, setelah gua komplain karena nasi goreng di resto sono ga enak=

Emang tua!! Jgn byk maunya loe!
=30 Apr 2010. menjelang saling mengucapkan selamat ultah=

Gila gpa gua dihargai kopi doank.. zlebs
=27 Mei 2010, negosiasi kompensasi akibat buruk dari novel geje gua=

Iiih ogah gua menelin loe,buang tenaga.. Loe lebih menel
=6 Agt 2010, penolakan yang menyakitkan :) =

Btw,budget terminal lmyn loh.ga lux tp bersih.ada kopitiamnya
=15 Okt 2010, satu2nya pujian yang gua tahu tentang budget terminal, ada orang lain yang bilang budget terminal mirip Radin Intan II=

I will never eat indian food anymore! Haha,. Kecuali uda die2 mau mati kelaparan baru dipertimbangkan de.. =p
=29 Sep 2010, setelah gua promo Indian Curry House di daerah East Coast=

---------------------------------------------------------------------------------------------

Sekian.

Saturday, February 12, 2011

Nagging Rhapsody

Kata orang di dunia ini ada dua jenis orang. Jenis pertama adalah orang yang membawa kebahagiaan ke manapun mereka pergi, yang satunya lagi, kapanpun mereka pergi. Lalu gua termasuk jenis yang mana? Silakan anda sendiri menilai namun gua cukup yakin, kalau penilaian itu akan sama dengan penilaian gua terhadap anda, maksudnya kalau anda mengangap gua jenis yang pertama, kemungkinan besar gua juga menganggap anda orang jenis pertama dan sebaliknya. Mengapa? By nature, gua merasa bahwa semua tindakan, tingkah laku gua adalah sebuah reaksi. Gua bakal jadi medok kalau ngomong sama orang medok (sehingga terkadang mencoba sering ngobrol dengan tetangga sebelah kantor yang orang Inggris, biar aksen gua jadi British), hormat dengan orang yang menghargai gua, geje sama si tukang geje sama gua, menel sama orang yang menelin gua .

Bukan contoh yang baik, karena waktu kecil dulu, gua pernah diajari kalau Tuhan Yesus berkata “Apabila ditampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu ditampar”. Namun guru SD gua memberikan suatu tambahan yang sampai saat ini masih gua ikuti, “tapi kaki nendang.” Karena itu kalau anda nanya gimana kelakuan gua, hampir pasti orang2 di sekeliling gua bakal bilang gua orang galak, tidak berperikemanusiaan dan perikeadilan.

Well, memang, by nature, gua adalah tipe orang yang gak akan memperlambat langkah saat berjalan di jalanan kecil dan melihat empat orang berjalan berjejer menutupi jalan dari arah berlawanan. Gua adalah orang yang suka memberikan sumpah serapah buat supir bis yang ninggalin gua walau sudah melihat gua berlari sekencang2nya menuju halte (dan gua mungkin orang yang paling senang kalau kejadian yang sama menimpa orang lain dan gua ada di dalam bis).

Gua mungkin dibesarkan bukan di tengah keluarga raja, tapi di keluarga biasa yang selalu dijadikan alas kaki para raja (dari lagu \Rif, Radja). Dan mungkin sedari kecil gua bertekad tidak mau menjadi seperti itu lagi atau naik pangkat sehingga gua benar2 seorang penjilat yang buruk dan sukar memuji jadi kalau gua bilang preman solo di sebelah itu ganteng, itu karena menurut gua dia benar2 ganteng . Maka tatkala gua mendapat tawaran menjadi seorang budak student dengan gaji singapur dolar, gua menerimanya tanpa berpikir panjang. Gua juga minta maaf kalau jiwa sosial gua kurang, meskipun seorang teman telah membanjiri renungan harian setiap hari yang umumnya mengajak kita untuk saling menolong, tapi sulit buat gua, mungkin karena gua sering menganggap menolong = menjadi alas kaki sehingga gua membatasinya untuk menolong seseorang yang ‘membayar’ gua alias my boss, ‘he has the authority on me’. Contoh lain, free food (gua sering bilang, ‘well, karena gratis jadi gua gak punya hak buat komplain’) dan anda bisa tahu gimana sebenarnya kualitas free food itu.

Sebenarnya gua bukan sama sekali gak mau menolong, gua senang menolong, tapi tentunya bukan hal yang berlebihan kalau gua berharap pernyataan minta tolong itu diakhiri dengan titik atau tanda tanya, bukan tanda seru. Gua rasa juga bukan hal yang berlebihan kalau gua yang menentukan gimana cara gua mau menolong (Misal: Eh, lu nggak ada kerjaan kan, bantuin gua pindahan dong, barangnya belum gua pack sih, Ntar kalau lu ada kardus2 gitu bawa ya, buat packing, terus kita pindahan, jalan kaki aja, gak jauh kok, cuma 3 bus stop. Lu juga udah biasa jalan kan? Lalu saat pindahan ada kata2 ini “Ah, elu sih gak bawa kardus, jadi kan kita mesti bolak balik”).

Hal lain yang gua pelajari dulu adalah kata2 ini “Man of his words”, dan gua selalu berusaha untuk menjadi salah satunya. Namun kata2 itu memiliki kekurangan besar yaitu hanya mencakup separuh populasi bumi. Gua semakin merasa bahwa pencetus kata2 itu adalah golongan separuh populasi bumi lainnya. Satu contoh jelas adalah OTP, on time performance yang banyak ditampilkan di situs airline. Well, gua kadang merasa dalam kehidupan manusia, OTP hanya ada pada golongan yang terikat kata2 tersebut, di mana gua salah satunya (karena itu juga gua semakin yakin bahwa preman solo itu adalah ‘man’ karena he she is indeed MAN of his her word. Entahlah, mungkin gua orang nganggur yang punya banyak waktu luang juga. Entahlah, setiap orang memang ada masalahnya sendiri2.

Gua tahu gua bukan orang baik juga, gua nggak bersihin rumah sesuai jadwal ibu kos gua *ups. gua gak bilang ke si OI bos gua itu kalau gua nggak bisa ketemu kemarin gara2 gua mau nyari makanan gratis di tempat bos baru gua sampai beberapa menit sebelumnya. Mungkin yang gua bilang berlebihnan, mungkin orang lain bertindak juga berdasarkan cara gua bertingkah laku dengan mereka, seperti yang gua bilang tadi. Who knows?

Sekian.

Monday, December 20, 2010

Just for my laughter, gags!

TV di negara gua tercinta sudah penuh dengan acara2 sinetron ala opera sabun yang menjual mimpi, thanks to Punjabi cs. Acara lain yang tidak kalah populer adalah gosip plus berita2 kriminal untunglah Global TV masih mendedikasikan 2 setengah jam siaran untuk Spongebob Squarepants . Meskipun demikian, memang gua masih menganggap acara TV Indo lebih bagus ketimbang TV Singapur. Nah di TV Indo itu ada salah satu acara hiburan yang menurut gua “agak” gak beres. Sesuatu sejenis acara “Spontan” di jaman dulu.

Di TV Singapur terkadang kalau jeda antar acara agak lama, ada acara singkat, judulnya “Just for Laugh, Gags!” sejenis acara “Spontan” orang Kanada. Tapi kalau diperhatikan, ada perbedaan dari joke2 yang mereka bikin, sebagai contoh:

Just for laugh, Gags: Misal si A dan B mau ngerjain si C. Si A bawa kue, dititipin ke si C, lalu disetting supaya si C nimpk kuenya ke si B, sehingga si B sengsara, si C merasa bersalah.

Spontan: Si A mau ngerjain si C. Di sini si A bawa kue lalu dengan tiada ampun ditimpuk ke muka si C.

Skenario lain,

Just for laugh, Gags: Kembali A dan B mau ngerjain si C. Si A dan C masuk ruang tertutup, lalu si A keluar. Tiba2 si B nongol entah dari mana dan keluar, membuat si C terheran2.

Spontan: A mau ngerjain C juga. Jadi si A dengan diam2 datang ke belakang si C dan langsung ngagetin si C.

Pada akhirnya memang acara ini buat hiburan. Tapi gua melihat ada satu perbedaan, yaitu, acara di bagian atas hampir tidak mungkin sang korban yang dikerjain menjadi marah, bandingkan dengan skenario si Spontan di mana kalau gua jadi korbannya, most likely gua nggak bakal kebagian masuk TV karena bagian pas mereka ngerjain gua dan bagian gua ngomel2 harus dicut.

Gua nggak tahu acara model begini itu di bawah pengaruh Punjabi cs atau tidak sehingga secara tidak langsung ada menu “tidak masuk akal”nya, sekedar informasi, cerita2 gak masuk akal seperti si A diam2 ngegeledah kamar si B, lalu ketahuan sama si B tapi malah si Anya yang marah2, itu sudah biasa. Untungnya hal2 begitu gak mencerminkan tingkah laku bangsa gua, sehingga gua masih tetap kerasan tinggal di Indo namun berdasarkan random sampling yang tidak akurat, siakp itu adalah sikap suku bangsa si Punjabi, semoga anda tahu siapa sampel yang saya ambil . Akhirnya, marilah kita menonton Just for Laugh, Gags aja, lebih bisa membuat ketawa, karena “Spontan”, juga sedikit banyak “Just for Laugh, Gags Asia” yang sempat tayang di TV Singapur, sepertinya cuma buat bikin ketawa orang yang ngerjain doang, Just for My Laughter, Gags!

Sekian.

Tuesday, December 07, 2010

A "dementor" called idleness

Bangun pagi2 bersamaan dengan nongolnya matahari di langit dan mulainya film Spongebob Squarepants di Global TV dilanjutkan dengan minum secangkir Nescafe, plus pisang goreng atau roti marie. Setelah itu senam pagi sesuai pesan mbah Surip mandi dan nganterin anak sekolah. Di perjalanan pulang mampir ke warung nasi uduk depan kantor Pak Lurah, membeli paket hemat dengan 5000 rupiah bisa dapet nasi uduk, kerupuk, tempe goreng 2 plus sambel.. Tapao.. Pulang makan, nonon TV, ada acara2 gosip pagi, menjelang siang langusng main PS, menunggu waktu jemput anak2 pulang sekolah. Setelah jemput anak pulang sekolah lalu makan siang, terus melihat2 keadaan para pegawai yang terkadang balik kandang sebentar. Menjelang sore duduk2 bengong di beranda, kadang ngobrol dengan para tetangga atau main PS lagi. Sore hari mandi, lalu acara serah terima setoran dari para pegawai.. Bantu2 benerin aset kalau ada yang rusak. Malem main gaple atau kartu ditemani singkong atau pisang goreng plus teh manis. Begitulah setiap hari berlalu seperti kata LeAnn Rimes How do I live a life like that? Life goes on...

Well, mungkin sebenernya bagian lagu yang gua coret yang bener. Cerita di atas adalah gambaran salah satu kerjaan yang pernah terlintas di benak gua beberapa waktu yang lalu, yaitu: Juragan Angkot. Inspirasi terpendam yang sudah tertanam sejak jaman kecil karena pengaruh sinetron berjudul “Angkot Haji Imron”. Gua sendiri ngga ingat ceritanya sama sekali, cuma lagunya aja. Namun kerjaan ini tampak seperti pekerjaan yang enak plus tidak perlu banyak mikir seperti pekerjaan yang gua telah salah pilih sekarang. Hidup santai, uang datang, mungkin concernnya cuma ngurus ijin yang ribet, harus nyogok sana-sini plus berurusan dengan preman seperti preman pasar Klewer yang tinggal di blok sebelah

Tapi mungkin memang orang2 yang memilih profesi jadi juragan angkot itu, memang sudah terlahir dan ditakdirkan menjadi juragan angkot dan sayangnya gua kemungkinan besar tidak terlahir untuk itu atau memang kepribadiannya sudah dirusak oleh sesuatu yang bernama ‘PhD’. Alasannya? Pekerjaan juragan angkot itu memerlukan kemampuan dan kreativitas pengisian waktu luang tingkat tinggi. Kalau hampir setiap hari bernama Minggu dan pekerjaan utama yang dilakukan tiap hari adalah menunggu datangnya setoran, bayangkan banyaknya waktu luang yang ada well, mungkin sebagian bisa diisi dengan ngasih tuition untuk tambah2 penghasilan. Saat gua mengalami keadaan “setiap hari adalah hari Minggu” memang ini tampak merupakan pekerjaan yang enak. (Mungkin quotenya perlu ditambah “Setiap hari adalah hari Minggu DI SINGAPUR”)

Hari2 gua sekarang memang masih dimulai pagi, saat film Spongebob Squarepants masih diputar di Global TV dan setelah sarapan, itulah hal kedua yang gua lakukan (nonton Global TV). Setelah itu biasanya gua mencari acara2 “mendidik” di TV, seperti di Discovery atau History Channel. Jam 10 nonton Global TV lagi, jam setengah 11 mulai berpikir acara makan siang, Masak Indomiekah, atau goreng nasikah? Berhuubng stok film masih ada, habis makan nonton film, tidur siang, nonton lagi dan hari pun mulai menjadi gelap. Saatnya mandi dan memikirkan rencana makan malam. Setelah makan malam? Nonton film lagi sampai waktunya tidur dan begitu seterusnya.

Meskipun gua nggak merindukan baca paper, karena kegiatan itu bisa dianggap sama dengan tidur siang, dan kerjaan gua selama ini sebagian besar ya duduk2 terus sambil ngeliatin acara gak jelas di layar komputer, yang mungkin bisa dianggap sama dengan nonton film, tapi ada satu perbedaan yang mungkin cukup besar, yaitu gua nggak pernah lagi memakai otak, sampai2 gua sempat mengira “Krusty Krab” = kepiting karatan. Namun memang, waktu gua nggak ada kerjaan sama sekali, saat setiap jam melihat ke jam dinding minimal 3 kali, dan terkadang bisa berjalan-jalan keliling rumah tanpa tentu arah dan berlokasi di Singapur , tampaknya tinggal beberapa langkah lagi yang kurang sebelum gua mencapai tahap “gila”. Sementara gua memang masih tertolong dengan tumpukan film yang sempat gua download. Mudah2an film ini gak habis gua santap dan yang terpenting lagi..semoga EP gua cepet keluar (Amin!), gua memang gak rindu baca paper, tapi cukup harus diakui, memeras otak untuk membuat program atau menurunkan persamaan2 GJ tampaknya tidak semanjur kehidupan juragan angkot sebagai ‘dementor’ buat gua.

Sekian.

Monday, November 29, 2010

An epic tale of Dapit Damiri

Sebagai seorang makhluk berkacamata, gua pastinya sekali2 (gak sering2 amat) berkunjung ke yang namanya optik. Dan optik langganan di kota kelahiran gua itu bernama Optik Loren, yang merupakan usaha keluarga turun temurun. Bokapnya buka optik, terus anaknya disuruh sekolah mata2 (maksudnya sekolah tentang mata, bukan dokter mata, gua lupa apaan). Tapi dalam post ini bukan si optik ini yang mau gua bahas, karena gak menarik. Si anak pemilik optik ini bernama ‘David’, yang entah kenapa dari sejak gua kecil sudah mendapat julukan,’Dapit Damiri’. Dan nampaknya, gua harus mengakui kecurigaan orang2 selama ini kalau asal mula julukan ini adalah... dari gua sendiri.

Sewaktu gua masih SD dulu, entah buku apa yang gua pakai, penerbitnya ‘most likely’ sih Balai Pustaka. Nah, di buku Bahasa Indonesia itu, kadang2 ada cerita2 bagus nan klasik yang dapat dikenang sepanjang usia, walaupun terkenang dalam alam bawah sadar, yang kemudian muncul di alam sadar menjadi ide untuk ngatain orang (dalam hal ini korbannya ya om Dapit ini). Perjumpaan gak sengaja dengan salah satu buku itu ternyata mengingatkan kembali, asal muasal Dapit Damiri ini. Siapa dia? Mukanya seperti apa? Kelakuannya gimana, preman seperti si orang Solo tetangga sebelah itu atau ga ? dst dst...

Salah satu kisahnya adalah si Dapit Damiri ini waktu menghadiri kenduri. Waktu itu si Dapit ini sama beberapa temennya pergi kendurian di kampung sono bareng temen2nya Mereka disuguhi hidangan nasi kebuli yang dimakan rame2. Jadi waktu kenduri itu mereka berkelompok, satu kelompok dapat satu porsi nasi gede plus sayur macem2 yang dimakan rame2. Sialnya, si Dapit ini ga kuat makan pedes sehingga kalau ke Ayam Penyet makannya sop buntut mulu sedangkan teman2nya yang lain adalah fans berat cairan berwarna merah yang bernama sambel. Mereka dengan enaknya menuang si sumber vitamin C itu ke dalam nasi kebuli yang lagi dimakan. Sementara mereka makan dengan lahapnya, si Dapit Damiri ini semakin lama semakin kepedesan. Pertama2 lidahnya terjulur, lalu keluar keringat dari wajah yang meluas ke seluruh badan hingga matanya pun mulai berair. Semua gejala2 umum yang disebabkan oleh kepedesan. Karena kesal dan sirik melihat orang2 lain yang makan dengan enaknya, si Dapit ini mengambil air yang langsung dituang ke dalam nasi itu, sehingga hidangan pun berubah menjadi sup. Kontan saja, orang2 yang lagi makan jadi marah. Si Dapit ini dengan tenangnya bilang “Lha, kita kan boleh nambahin apa aja. Kalian masukin sambel, ya saya masukin air”. Entah karena mereka takut apa emang orang2 yang lain ini pada goblok, mereka semua langsung pulang meninggalkan si Dapit ini sendirian. Sewaktu tuan rumah dateng dan lihat kalau makanan si Dapit ini kebanjiran dan ga bisa dimakan lagi, si Dapit langsung disuguhi nasi kebuli yang baru, untuk dimakan sendiri.

Well, kisah yang cukup bagus kan? Moral utama dari cerita ini pastinya adalah Kalau anda nggak mau makan yang pedes2, jangam minta ditraktir di ayam penyet, cukup kopi saja , eh jadi orang harus cerdik dan licik bila perlu biar sukses. Dan si tokoh Dapit Damiri ini memang digambarkan sebagai orang yang cerdik. Dalam kisah lainnya sewaktu dia menangkap perampok (detailnya ga tau karena bukunya ga ketemu, jadi ga inget ceritanya), orang ini menangkap perampok dengan cara ala “Home Alone” meskipun tidak seekstrim itu.

Itulah sekelumit kisah asal nama julukan si pemilik optik, yang kini digunakan secara legal oleh sebagian besar masyarakat di kota gua dalam keluarga gua. Ada sedikit rasa bangga karena gua berhasil membuktikan kalau gua adalah sumber utamanya (memang gua dari kecil jago ngatain orang kali ya). Tapi untunglah, gua ngga pernah jadi korban kelicikan si David yang asli ini atau gua ga tau kalau sudah jadi korban, anyhow, dia kan C**a . Yang pasti, nampaknya gua masih akan menjadi pelanggan setia optik itu lagi dan lagi..

Sekian.

Sunday, September 26, 2010

The tale of boulder, gravel, sand, and water

Ada sebuah cerita klasik tentang seorang bijak yang memberikan ceramah dengan suatu demonstrasi. Singkatnya, dia mengambil ember, mengisi dengan batu besar sampai penuh, lalu dia bertanya kepada para hadirin “Apakah ini sudah penuh?” Lalu si hadirin pun menjawab “Sudah”, kemudian dia mengambil kerikil dan mulai memasukkan ke dalam ember lagi, mengajukan pertanyaan yang sama, dan para hadirin kembali menjawab “Sudah”. Eh, ternyata si orang ini mengambil pasir lagi dan mulai mengisi ember itu. Lalu dia bertanya lagi hal yang sama dan mendapat jawaban yang sama juga. Terakhir dia memasukkan air ke dalam ember itu. Kali ini, ember itu barulah benar-benar penuh.

Dari lebih dari lima forwardan email yang pernah gua terima dengan isi yang sama, nampaknya batu besar adalah hal yang paling penting bagi kita, kerikil adalah hal yang kurang penting, pasir itu hal yang nggak gitu penting, dan air melambangkan hal yang gak penting, buat hiburan doang, dan cenderung (menurut bahasa kaum PhD sini) “GJ”. Jadi mungkin maksud utamanya adalah, sesibuk apapun anda, selalu ada tempat untuk ‘ke-GJ-an” kita arus bisa membuat prioritas, karena jika kita salah urutan, misal kita memasukkan pasir dulu, tidak akan ada tempat lagi untuk kerikil atau batu besar. Namun masalahnya, pasir jauh lebih mudah dimasukkan dibanding batu besar yang berat2 itu. Mungkin juga, karena sudah sakit punggung, kita mulai mengisi kerikil sebelum batu besar itu penuh mengisi ember. Mungkin juga itulah yang terjadi pada gua, pada batu besar yang namanya **D yang dilempar oleh si manusia I sehingga batunya bau kuah curry

Menrut manusia yang dimaksud, gua pernah memiliki semangat kerja yang tinggi, untuk 2½ tahun pertama dan setelah itu hasil kerjaan gua semakin kacau. Benarkah? Entahlah. Gua sempat mencari tahu alasan2 kenapa orang itu bisa bilang begitu. Karena pindah rumah? Karena kedatangan makhluk Solo tidak bertanggung jawab? Karena orang rumah pada terpengaruh pindah haluan dari peneliti? Setelah berkontemplasi selama perjalanan di atas bis nomor 48 jurusan Grogol - Depok East Coast - Buona Vista, gua mungkin mendapat jawabannya. Karena batu2 besar yang sudah dilempar dan dimasukkan ke dalam ember, dikeluarkan lagi dan dibuang oleh makhluk I ini dengan alasan batunya kurang besar sehingga embernya nggak akan penuh.

Memang gua bukan orang yang ambisius, gak terlalu peduli sama yang namanya bersaing. Kalau makhluk2 teman gua yang berprofesi sama bekerja siang malam hingga Sabtu dan Minggu, gua salut, namun untuk meniru? Nggak bisa, karena kerjaan gua nggak sebanyak itu. Jangan2 datang pun gua bengong di sono. Lalu di sinilah letak perbedaan utamanya, dulu gua rajin mencari sesuatu yang bisa dikerjakan, mencari batu2 itu untuk dimasukkan ke dalam ember. Sesuatu yang sering gua lakukan tanpa setahu manusia I itu dan biasanya, saat manusia I itu melihat ke dalam ember gua, dia akan mulai memilah dan mengambil batu2 besar yang sudah gua masukkan ke sana lalu menyuruh mengganti dengan batu punya dia sendiri yang sepertinya tidak lebih besar daripada batu yang sudah dibuang bau curry lagi

Namun jangan lupa, di ember itu tidak ada batu besar saja, ada kerikil, pasir, dan air dan si manusia I ini tidak punya kuasa untuk mengisi atau memindahkan kerikil2 ini. Satu hal lagi, sudah jelas kalau gua lebih senang memasukkan kerikil, pasir dan air ke dalam ember. Mereka gak bikin sakit pinggang. Betul? Namun gua masih berpikir kalau jumlah kerikil, pasir, dan air yang gua masukkan tetap sama, paling tidak sampai bulan lalu.

Dulu kesibukan GJ gua berkisar pada nonton film Jepang yang disalurkan oleh seorang anak NTU murah hati bernama ‘maggot’. Sekarang, karena orangnya udah lulus, gua beralih kecanduan download film2 Barat. Dulu ada game flight simulator yang rajin gua mainin setelah makan malam. Sekarang pun gamena masih ada namun gak pernah gua mainin lagi, berganti menjadi mencari gosip2 GJ di facebook. Kadar pasir dan air ini mungkin bertambah karena gua berkenalan dengan beberapa manusia GJ dari gedung sebelah (nama disamarkan). Sehingga, gua merasa kalau jumlah batu besar yang masuklah yang gua kurangi. Buat apa dimasukin, toh nanti dikeluarin lagi, betul?

Bulan ini, kerikil dan pasir itu mulai bertambah. Gua mulai mencoba menjadi penerjemah dari pidato2 singkat orang penting yang dipost di internet yang mulai gua senangi. Ditambah lagi, berkat seorang teman, gua mulai nyoba ngajar anak SMA di salah satu ujung kota Singapur yang lain, yang berjarak 1½ jam dari rumah atau hampir 2 jam dari sekolah untuk pergi, dan 2 jam untuk pulang. Dan meskipun capek, sebenarnya gua merasa jauh lebih senang, ada juga perasaan kalau gua lebih berarti, menjadi dihargai dan dihormati juga, yang sepertinya hampir gak pernah gua rasakan di sekolah. Kata2 ‘terima kasih’ dan kesediaan orang lain berhujan2an walau lagi sakit untuk membukakan pintu pagar buat gua, nampak sangat berarti.

Well, kalau begitu, bagaimanakah nasib batu2 besar yang berbau curry itu? Well, akan gua masukkan, suatu saat... nanti....

Sekian. 

Friday, September 17, 2010

The live jacket

Perasaan puas itu masih ada, perasaan puas setelah sukses melakukan penyerangan kepada oknum yang paling dipuja oleh para tetangga gua, dan gua sama sekali ngga nyangka kalau orang yang bersangkutan bakal tahu. Sesuatu yang menambah kepuasan batin. Oke, jadi di blog baru ini gua mau mulai dengan cerita2 yang ringan saja, walaupun pembullyan, khususnya terhadap penghuni rumah sebelahitu, masih mungkin bisa ditemukan.

Kali ini gua mau menulis tentang sebuah jaket. ‘live jacket’, bukan ‘life jacket’ untuk menyelamatkan diri, karena gua nggak punya. Ngga dijual di mana2 dan kalau nyuri dari pesawat, hukumannya 2 tahun penjara dan atau denda 200 juta. ‘Live jacket’, jaket yang menemani gua dalam kehidupan gua. Ceritanya dimulai kala ua mau pulang kampung dari Bogor sewaktu SMA.

Saat itu sudah menjelang libur dan gua berencana untuk mudik. Tante gua yang baik juga sudah datang menjemput. Karena pagi harinya ada ujian, jadi gua ikut ujian dulu sampai kira2 jam 9 pagi, lalu langsung berangkat dari sekolah, berhubung jarak sekolah ke terminal bis lebih dekat dibanding kalau harus balik ke rumah lagi. Sayangnya, entah apa yang masuk ke perut gua sehari sebelumnya, sewaktu ujian di kulit gua mulai muncul bintik2 merah. Saat tante gua menjemput di depan sekolah, gua sudah menjadi seperti suku Indian di Amerika sono. Tapi gua nggak merasa nggak enak badan atau pusing atau semacamnya, jadi tante gua berkeras. Tetap harus pulang, sampai di rumah ada keluarga yang bisa merawat. Ya sudahlah, akhirnya tante gua berlari ke pasar di dekat sekolah, membeli sebuah jaket dan topi untuk menutupi warna kulit gua yang bisa menarik perhatian para dukun untuk diambil organ tubuhnya dan dijadiin jimat.

Perjalanan pulang pun dimulai. Rute pertama sebelum menyeberang ke pulau Sumatera adalah jalan tol yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam kalau bisnya ngak keluar masuk tol mencari penumpang dan menafkahi para pedagang yang berseliweran di terminal. Untungnya, bis tidak harus melewati jalanan tanah yang tidak mungkin dapat dilewati sewaktu hujan karena lumpur sedalam lutut orang dewasa yang mungkin bisa anda jumpai kalau hendak mengunjungi Solo. Kemudian, gua harus menyeberang ke Sumatera sana dengan kapal cepat, yang Cuma memerlukan waktu 1 jam, jauh lebih cepat dibanding kapal feri gede yang perlu 2 jam di jalan, ditambah setengah jam ngantri pelabuhan, dan jika beruntung 1 jam lagi isi penumpang dan setengah jam ngeluarin penumpang lagi. Toh gua masih merasa beruntung karena ketika anda mengunjungi Solo, anda harus bertaruh nyawa menyeberang sungai Bengawan Solo yang ganas dan penuh dengan batuan2 cadas dengan menggunakan perahu karet. Di sini anda benar2 harus menggunakan ‘life jacket’ yang asli. Well, serasa mau berarung jeram aja ya.

Setelah sampai di Sumatera, gua melanjutkan lagi perjalanan panjang mudik ini, masih dengan kulit memerah dan kini ditambah kepala mulai pusing dan suhu badan mulai naik. Entah kenapa lagi, mungkin kalau gua mudik ke arah Solo sana, badan gua sudah nggak bisa bergerak lagi. Untungnya tidak. Gua masih melalui jalan mulus beraspal, meskipun bukan jalan tol lagi dan sampai di rumah dengan selamat sore harinya dalam keadaan yang cukup mengenaskan, kulit seperti terbakar ditambah pusing dan mual. Gua sendiri nggak berani melihat warna kulit gua sewaktu gua membuka jaket yang sudah melindngi gua dari kesan ‘alien’ di sepanjang perjalanan. Sesampai di rumah, gua langsung ke dokter dan keesokan harinya, kondisi gua sudah mulai membaik, sejak bala bantuan berwujud obat antialergi masuk ke badan gua. Entah alergi apa gua waktu itu. Mungkin tanpa sengaja waktu itu di Bogor gua menjumpai prata atau kari India yang langsung gua makan tanpa menyadari akibat buruknya.

Alergigua sembuh dan gua bisa liburan di rumah dengan tenang, berkat jaket itu gua bisa pulang dengan selamat juga. Sekarang, jaket itu masih tersimpan rapi di lemari gua dan mungkin salah satu pakaian tertua gua yang masih gua simpan di sini. Awal tahun ini, reslitingnya sempat putus dan gua ngga tahu gimana cara memperbaiki resliting jaket yang rusak di sini dan gua juga takut dengan ongkosnya sehingga gua harus menunggu kesempatan mudik lagi untuk benerin reslitingnya. Kini, resliting itu sudah bagus lagi dan jaket itu akan menemani gua lagi.. dalam kehidupan sehari2, dalam susah dan senang, truly ‘live jacket’.

Sekian.

Monday, September 06, 2010

My new blog

Blog ini merupakan kelanjutan dari http://ayudi.spaces.live.com. Seperti yang sudah gua ceritakan kalau dulu gua membuat blog dengan tujuan utama untuk menceritakan kehidupan seorang dosen yang sudah menjadi musuh bebuyutan gua sejak pertama kali gua melihat mukanya. Aura nyolot yang terpancar dari wajahnya memang sudah terasa sejak pertama kali gua melihat muka dia. Kini, tujuan itu sudah tercapai dan memang gua sempat berpikir untuk pensiun dari dunia blogging. Namun setelah mendapat pencerahan dari salah seorang mantan muridnya, maka gua berpikir kalau lebih baik gua membuat blog baru saja. Toh gua sudah mulai suka menghakimi orang melalui blog.

Akhirnya, proses pembuatan blog baru pun dimulai. Sebenarnya gua consider 3 blogging websites. Pertama blogspot, kedua wordpress, dan ketiga multiply, dengan nama account yang sama: ‘ayudi’. Sayangnya, di ketiga tempat itu nama account itu sudah ada yang pakai semua. Inilah salah satu kerugian punya nama pasaran. Akhirnya, gua mencoba a.yudi, a_yudi, dan a-yudi. Dua username yang gua sebut pertama tidak boleh dipakai sama wordpress, katanya cuma boleh pakai huruf sama angka doang.. Sigh.. Waktu gua nyoba sign multiply, lho, kok isinya lagu2 gak jelas semua, bikin males. Akhirnya, gua mencoba blogspot, eh ternyata bisa. Kebetulan juga gua sudah punya blog di blogspot yang menceritakan kelamnya kehidupan seorang anak PhD, walaupun housemate gua sempat bilang kalau kapasitasnya wordpress 3 kali lebih besar, tapi ya sudahlah, menghujat orang kan gak perlu memori dengan kapasitas besar. Sang preman Solo pasti sadar betul akan hal itu.

Yang juga menjadi alasan gua membuat blog baru mungkin juga blog hotmail semakin lama semakin parah, atau mungkin guanya yang semakin parah. Sejak beberapa bulan lalu, gua ngak bisa lagi melihat statistics di blog gua, dan beberapa hari yang lalu gua baru sadar kalau gua nggak isa upload foto langsung di blog lagi. Akhirnya, daripada repot mencari cara buat upload gambar atau apapun itu, jiwa pemalas gua bilang lebih baik buat blog yang baru aja.

Akhirnya, gua mau mengucapkan selamat membaca dan semoga berkenan, termasuk bagi korban2 yang gua bully di blog ini, seperti sang preman Solo atau mantan artis cilik yang kini berbagi meja dengan gua di rumah. Apabila ada kata2 yang tidak berkenan, kini dan seterusnya, harap dimaafkan ya, mumpung masih suasana lebaran nih.

Sekian